.SELAMAT ULANG TAHUN MALL PEKANBARU KE-7 DAN TELKOM KE-154.MAJU TERUS PEMUDA-PEMUDI INDONESIA !!

Sabtu, 30 Oktober 2010

PEMUDA INDONESIA ABAD 21



Sumpah Pemuda merupakan salah satu tonggak sejarah yang sangat penting bagi bangsa kita ini yaitu Indonesia. Hal-hal yang terkandung dalam teks sumpah pemuda yaitu, bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Tiga hal tersebut merupakan faktor yang sangat penting bagi negara kita ini. Pernyataan tersebut membuat inspirasi saya, bagaimana perjuangan dan semangat pemuda dulu. Kemudian bagaimana pula kenyataan pemuda pada masa kini.


Sumpah pemuda dirumuskan oleh para pemuda-pemudi Indonesia, mereka menjadikan sumpah pemuda sebagai dasar untuk kembangkitan rasa nasionalisme. Perlu kita ketahui, Sumpah Pemuda tidak lahir begitu saja. Banyak hal yang melandasi para pemuda bertekad untuk bersatu. Mereka berpikir tidak akan bisa membuat Indonesia merdeka jika berjuang di kelompok sendiri.


Kegagalan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia membuat mereka sadar bahwa rasa nasionalisme harus dipadukan. Karena itu, diadakanlah Kongres Pemuda I dan II. Mereka menjadi satu, menjadi “Pemuda Indonesia”.


Semangat persatuan para pemuda dulu harus diikuti dengan pemuda masa kini, yaitu dengan mengisi kemerdekaan. Bukankah kita-kita ini merupakan bagian dari pemuda Indonesia, yaitu pemuda generasi masa depan dengan meneruskan cita-cita para pemuda dahulu. Akan tetapi, hal tersebut bertolak belakang dengan pemuda zaman sekarang. Banyak para pelajar Indonesia saling berpecah bela, yaitu tawuran antar pelajar dimana-mana. Hal tersebut dikarenakan hal-hal yang sepele. Bukan para pelajar saja, pemuda Indonesia yang dipredikat sebagai manusia berintelektual pun juga ambil bagian dalam hal kerusuan, kerusakan, dan keanarkisan.


Bukankan inti dari sumpah pemuda, yaitu kita menjadi pemuda yang bersatu dan saling membantu dalam hal memperjuangkan kemerdekaan. Akan tetapi dalam kenyataannya mereka telah menghancurkan semangat Sumpah Pemuda. Permasalah beberapa pemuda zaman sekarang, bukan hanya emosi yang tak terkendali. Mereka juga bermental egois dan asyik dengan diri sendiri tanpa peduli dengan lingkungan. Mereka menjerumuskan diri ke dalam narkoba, hura-hura, dan pesta-pora. Menurut saya, pemuda zaman sekarang terlalu terlena dengan kemudahan kemudahan yang ada. Akibatnya, mereka terjerumus ke hal-hal yang negatif. Sebaiknya, mereka memakai kemudahan untuk meningkatkan kualitas diri-sendiri.


Akan tetapi untungnya tidak semua pemuda zaman sekarang seperti mereka, yang menghancurkan diri dan bangsanya. Masih banyak generasi penerus bangsa yang masih peduli dengan lingkungan dan menjunjung tinggi semangat Sumpah Pemuda. Banyak pemuda Indonesia masa kini yang berprestasi di bidang pendidikan, olahraga, teknologi, perdamaian, dan lain-lain.

Realisasi Pemuda Tempo Kini

Ernest Renan (1881), pernah mengungkapkan bahwa hakikat sebuah bangsa berinti dalam “Le desire de vivire ensemble atau keinginan untuk hidup bersama”, meskipun berada pada titik perbedaan rasial, agama, suku dan sebagainya. Membalik lembaran sejarah nusantara, gagasan dengan semboyan mempersatukan Nusantara. pernah terlontarkan dari Pati Gajah Mada ‘Sumpah Palapa’ sekitar 700 tahun lalu.
Dalam kontek kepemudaan, kemunculan golongan pemuda terdidik secara modern pada awal abad 20. Gagasan mempersatukan nusantara ke dalam sebuah negara kesatuan ‘Indonesia’ atau sense of nasionalism kembali di bumikan, di tandai dengan kemunculan organisasi Budi Utomo (1908). Di kenal sebagai motor dan cikal-bakal risalah pergerakan pemuda Indonesia.
Selang beberapa dekade kemudian, berdiri pelbagai organisasi kepemudaan bersifat kedaerahan. Seperti Jong Java (1918); Jong Celebes (1918); Jong Sumatra Bond (1917); Jong Islamieten Bond (1925); Jong Minahasa (1919); Sekar Rukun (1920); Jong Ambon (1918) dan lain-lain.
Kesadaran para pemuda bahwa perjuangan kedaerahan sangat minim memberikan arti signifikan dalam mempersembahkan kemerdekaan. Bahkan, terlihat semakin mundur dan mengalami kekalahan demi kekalahan. Sehingga, menumbuhkan benih-benih semangat untuk bersatu dengan meninggalkan paham kedaerahan. Lantaran itu, terselenggaralah kongres pemuda Indonesia pertama (30 April-2 Mei 1926).
Baru pada kongres pemuda kedua (27-28 Oktober 1928), para tokoh-tokoh pemuda kedaerahan berhasil merumuskan suatu nota kesepahaman berupa tiga kesepakatan, di kenal dengan ‘Sumpah Pemuda’:
Kami putra-putri Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia
Kami putra-putri Indonesia, ber-Tanah Air satu Tanah Air Indonesia
Kami putra-putri Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia
Pasca pelapasan sumpah pemuda, semangat perjuangan bersakala nasional semakin menggelora dan membakar dalam tubuh rakyat Indonesia. Tepat tanggal 17 Agustus 1945—sekitar tujuh belas tahun setelah itu—bangsa Indonesia keluar dari ketertindasan dan kungkungan penjajah lebih dari tiga abad.
Besar dan berat tantangan menghampiri pemuda tempo dulu, memberikan arti penting bagi mereka dalam membangun jiwa dan mental kuat sekaligus unggul. Letupan senapan dan getaran bom, bagi mereka bukan sesuatu hal menakutkan. Bahkan, mampu membangun full Spirit (semangat menggebu) dalam berjuang—dalam wujud pemikiran, gagasan maupun berperang—untuk keluar dari kungkungan dan penindasan kolonial penjajah.
Bukti konkrit, pemuda tempo dulu seperti: Soekarno, M. Hatta, M. Natsir, Jendral Soedirman, Bung Tomo, M. Yamin, Syafruddin Prawira negara, R.A. Kartini, Rohana Kudus dan lain-lain. Sebagian kecil contoh pemuda-pemudi tempo dulu terlahir di atas tantangan-tantangan besar. Lantaran itu, mereka muncul sebagai tokoh-tokoh besar bahkan nama harum mereka mampu melintasi The History of World Civilization (sejarah peradaban dunia).
Bagi pemuda tempo dulu, perjuangan merupakan keharusan dan panggilan jiwa. Sudah barang tentu membutuhkan sebuah pengorbanan. Tak terhitung berapa banyak pemuda menjadi korban dalam perjuangan melepaskan bangsa ini keluar dari ketertindasan kaum penjajah. Realitas ini, sebagai salah satu bentuk pengorbanan berharga, pantas untuk di hargai dan jadikan catatan penting dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia.
Selama 82 tahun sudah Sumpah Pemuda di kumandangkan, pergeseran peranan dan kecendrungan para pemuda kekinian, secara terbuka telah menenggelamkan esensi dan isi dari peristiwa penting sumpah pemuda dari hakikat sebenarnya. Bahkan telah mengikiskan nilai-nilai serta kepribadian bangsa Indonesia. Ternyata, penjajahan modern mampu memporak-porandakan moralitas dan kepribadian pemuda Indonesia.
Kebenaran Istilah ‘Menguasai informasi mampu menguasai dunia’ hari ini telah terbukti. Teknologi informasi telah menggerogoti moralitas dan membawa pemuda Indonesia berkiblat pada kehidupan hedonisme dan materealisme ala barat, resiko terbesar dapat membunuh sense of social atau rasa sosial. Hal ini, menjadi tantangan besar bangsa Indonesia dalam membangun generasi muda masa depan keluar dari ketertiduran dan keterlenaan berkepanjangan.
Di ulang tahun Sumpah Pemuda ke-82 ini, momen tepat bagi pemuda Indonesia tempo kini untuk evaluasi dan menjadikan tolak ukur bahwa tantangan masa kini secara jelas tak kalah besar bahkan lebih berat dengan tantangan pemuda tempo dulu. Walaupun, tantangan pemuda tempo kini lebih bersifat abstrak. Karena itu, dalam menghadapi penjajahan kolonialisme modern. Beberapa poin penting harus direalisasikan pemuda tempo kini.
Pertama, meneguhkan kembali sense of reform atau kepekaan untuk berubah. Secara de facto, mayoritas generasi muda Indonesia tengah terjerembab pada budaya pop (Pop Culture). Tradisi tersebut, semakin mengikiskan rasa kepercayaan diri serta menjauhkan pemuda Indonesia tempo kini dari kepekaan terhadap kondisi dan permasalahan bangsa hari ini.
Kedua, revitalisasi atau membangun kembali kebanggaan terhadap budaya, moralitas serta kepribadian asli bangsa Indonesia. Realita membahasakan bahwa generasi muda Indonesia hari ini, lebih bangga menggunakan budaya, moralitas bahkan kepribadian eksport (westernisasi). Degradasi menimpa generasi muda dari pelbagai arah ini, harus menjadi catatan penting untuk di evaluasi.
Ketiga, bercermin dari sejarah vitalitas perjuangan generasi muda tempo dulu. Dalam menghadapi pelbagai tantangan, pemuda tempo kini sudah barang tentu harus menjadikan pemuda tempo dulu sebagai kaca spion untuk membantu dalam menghindari kecelakaan sejarah. Sejarawan Perancis, Mona Ouzouf pernah mengatakan peringatan sejarah lebih untuk mengingatkan semua orang bahwa "kita semuanya tetap sama seperti dulu dan ingin tetap sama di masa datang".
Keempat, menumbuhkan kesungguhan dalam menempuh pendidikan—scientific dan teknologi, keterampilan, kreativitas dan sebagainya. Keterpurukan dunia pendidikan Indonesia secara free fall atau terjun bebas ke posisi sangat memprihatinkan perlu menjadi pukulan ataupun teguran terhadap generasi muda Indonesia tempo kini untuk bangkit dan membangun kembali vitalitas dalam menjalani pendidikan.
Kelima, menjadi teladan dan kebanggan generasi mendatang. Image mengagumkan dan keluar dari keterpurukan moralitas serta mewariskan nama harum, sangat diperlukan bagi generasi muda tempo kini agar dapat berhadir di tengah-tengah generasi muda masa depan sebagai suri tauladan dan kebanggan.
Keenam, Pemuda tempo dulu berjuang dalam mempersatukan dan mempersembahkan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, pemuda tempo kini berjuang dalam mengembalikan eksistensi, kredibilitas, martabat serta kepribadian bangsa Indonesia di mata dunia

Pemuda Kini dan Pemuda Tempoe Dulu

Tanggal 28 Oktober merupakan sebuah tanggal yang tak asing lagi dan selalu diperingati dengan cukup meriah di Indonesia, bukan karena tanggal ini memiliki nomor yang cantik dan mudah dihafaln ataupun apa, namun pada tanggal itu diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda. Kalo dilihat dari namanya Hari Sumpah Pemuda memang sudah tidak asing lagi di telinga orang-orang Indonesia. 82 tahun yang lalu, Pada tanggal yang sama yaitu 28 Oktober, para pemuda khususnya pelajar-pelajar dari seluruh Indonesia, berkumpul dalam suatu rapat akbar yaitu Kongres Pemuda II, yang diselenggarakan atas inisiatif PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia), Rapat tersebut akhirnya menghasilkan 3 butir poin penting,yaitu:
PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDUA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.
Sebelum tercetus 3 rumusan penting itu, tepatnya pada Kongres Pemuda II, pemuda-pemuda di Indoesia telah melakukan perbincangan-perbincangan untuk membicarakan pentingya persatuan bangsa bagi perjuangan menuju kemerdekaan. Salah satunya Kongres Pemuda I yang telah berlansung sebelum Kongres Pemuda II, tepatnya 30 April-2 Mei 1926
Kenyataannya, ketiga poin penting yang tercantum dalam isi sumpah pemuda itu,memang masih diseru-serukan setiap tanggal 28 Oktober, namun nampaknya pemuda saat ini khususnya pelajar SMA tidak menyadari makna penting dari kalimat yang terkandung dari ketiga poin itu, faktanya saat ini, semangat persatuan yang dimiliki pemuda 82 tahun lalu dan saat ini sangat jauh berbeda, pemuda jaman dahulu saling berkumpul untuk membicarakan bagaimana cara menjalin persatuan, saling bertukar pikiran dan ide, saling menghargai pendapat satu sama lain dan menyatukan ide yang berbeda, semua itu memang terasa indah, dimana sikapa saling toleransi ada, sikap kerukunan ada, tapi keadaan itu sudah sungguh sangat berbeda dari keadaan saat ini, dimana pemuda saat ini khususnya Pelajar SMA sering sekali melakukan tawuran. Padahal sesama Pelajar SMA yang seharusnya memiliki intelektualitas, rasa saling persaudaraan tinggi ternyata saling baku hantam satu sama lain. Anarkisme dan perilaku destruktif tersebut tentunya sangat bertentangan dan berbanding terbalik dengan semangat dan jiwa Sumpah Pemuda. Pemuda zaman dahulu memeras otak untuk memikirkan bagaimana cara mempersatukan semua elemen pemuda di Indonesia, namun pemuda saat ini malah melakukan kegiatan yang merusak persatuan dan kesatuan, yang sama saja artinya bahwa pemuda saat ini sudah menghancurkan mimpi dan ide-ide pemuda terdahulu untuk mencapai persatuan.
Memang dahulu sumpah pemuda dijadikan sebagai senjata ampuh untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Saat ini memang negara Indonesia sudah merdeka, namun dengan merdekanya negara ini, bukan berarti para pemuda khususnya kita sebagai Pelajar SMA harus berpangku tangan saja meratapi keadaan negara ini, ataupun malahan merusak persatuan yang telah menjadi mimpi pemuda terdahulu, tapi alangkah baiknya jika kita sebagai Pelajar SMA yaitu seorang pemuda yang juga sama terpelajarnya dengan pemuda terdahulu untuk menyumbangkan ide-ide kreatif yang dapat merubah keadaan negeri ini menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Sebagai Siswa SMA, sebaiknya kita memiliki ide-ide briliant, untuk merubah keadaan negeri ini, kita mulai saja dari keadaan remaja saat ini, remaja kita saat ini termasuk remaja yang sangat suka sekali dengan hal-hal yang berbau orientasi seksualitas, pornografi, dan pornoaksi. Sebenarnya bukan hanya remaja, bahkan dari anak-anak sampai orang dewasa pun sangat menyukai semua hal-hal yang masih berbau dan bertemakan pornografi. Hal tersebut dapat dilihat dari merebaknya kasus pornografi di negeri ini. Tentunya kita masih ingat kasus video porno artis papan atas, itu merupakan salah satu contoh bahwa negeri ini masih menyukai hal-hal yang berbau pornografi. Seharusnya kita dapat memiliki ide-ide untuk dapat mengalihkan perhatian masyarakat Indonesia, dari masyarakat yang suka hal-hal yang berbau pornografi dan pornoaksi menjadi masyarakat yang lebih aktif dan kritis serta memiliki wawasan yang luas. Misalnya kita dapat mengadakan seminar-seminar tingkat nasional dengan peserta pelajar SMA, ataupun seminar mengenai bahaya narkoba, dll. Hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengisi kemerdekaan ini dengan prestasi-prestasi tingkat nasional maupun internasional yang dapat mengharumkan nama bangsa ini.. ayo teruslah bangkit para pemuda generasi penerus bangsa ini.....Semangat!!

Bersama Menteri BUMN, Menpora Buka Speedy Tour d'Indonesia 2010

Jakarta: Minggu (24/10) pagi, Menpora Andi Mallarangeng bersama Menteri BUMN Mustafa Abubakar membuka lomba balap sepeda terbesar, Speedy Tour d'Indonesia 2010 di Pintu Satu, Senayan, Jakarta. Pembukaan ditandai dengan keikutsertaan kedua menteri ini mengayuh sepeda bersama seluruh peserta.
Sebelum membuka acara, Menpora bersama Menteri BUMN disuguhi pertunjukkan tari-tarian khas Jakarta, setelah itu baru kedua menteri menyampaikan sambutan pembukaan Speedy Tour d'Indonesia yang sudah dilaksanakan ketiga kalinya. Menurut Menpora, dirinya cukup senang sekali olahraga balapa sepeda sekarang ini memiliki perkembangan yang pesat.
"Balap sepeda sekarang ini sudah menjadi kebangaan bagi seluruh rakyat Indonesia. Semua masyarakat sekarang ini setiap hari libur selalu menyempatkan diri bersepeda. Oleh karena itu saya mengucapkan banyak terima kasih kepada BUMN yang terus mendukung olahraga kita untuk maju. Saya harapkan Speedy Tour d'Indonesia ini menjadi ajang bagi cabor balapa sepeda untuk menyumbangkan medali di ajang SEA Games 2011 nanti," kata Menpora.
Sementara, Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan akan terus mendukung penuh perkembangan dunia olahraga di Indonesia. "Semoga saja ajang balap sepeda bergengsi ini jadi spirit untuk menyongsong sukses Indonesia menjadi tuan rumah SEA Games 2011 nanti," kata Mustafa. Ikut hadir pada acara pembukaan Speedy Tour d'Indonesia itu yakni, Miss Earth 2009 asal Brasil, Larissa Ramos. Speedy Tour d'Indonesia adalah event balap sepeda yang diikuti 17 tim dengan memperlombakan 10 etape yang akan dimulai 24 Oktober - 3 November.

Teknologi Dan Pendidikan Pada Zaman Kini dan Dulu

Dahulu kala di zaman yang kata orang serba susah, di zaman yang katanya orang makan pelepah daun pisang dan sebagainya, pendidikan merupakan hal yang penting di kalangan kaum pemuda saat itu. Tengok saja Sukarno, Hatta, Sutomo, dan yang lainnya. Ditengah zaman yang carut-marut dalam arti sebenarnya, mereka-mereka masih memikirkan pendidikan. Tanpa buku yang layak untuk belajar, (kalaupun ada hanyalah “sabak”). Tanpa ada kesempatan yang luas untuk saling berbagi dan berdiskusi tentang suatu topik. Kesempatan bangsa ini sangat terbatas untuk belajar. Hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan Belanda untuk sekolah. Itupun hanya tingkat rendah. Selebihnya jika ada beberapa pemuda zaman dulu yang belajar hingga tingkat tinggi adalah hasil dari perjuangan mereka yang sangat gigih.

Bila malam, mereka tentu tidak bisa belajar. Tahu sendirilah bagaimana PLN saja saat itu belum lahir. Belum lagi bila ada pergolakan yang terjadi. Maklum saja, zaman perang memang tidak bisa diprediksi dengan baik. Maksud hati ingin belajar, eh keadaan keamanan sedang gawat. Jadi, ya tahu sendirilah bahwa selain waktu yang sangat terbatas untuk belajar, kesempatan untuk semakin mengembangkan diri juga tidak ada. Mereka memang nyaris tidak pernah tersentuh oleh teknologi.

Namun jika kita mau terus menelusuri pejuang-pejuang kita, ada hal yang semestinya bisa kita ambil untuk kita jadikan pelajaran. Tengok saja pendahulu-pendahulu kita. Mereka tidak kalah cerdasnya dengan kita. Bahkan mereka dengan segala keterbatasan mereka bisa melampaui paradigma pemuda sekarang yang mungkin terlalu dimanja oleh teknologi. Mampu menembus level dunia internasional. Tengok saja Bung Karno yang pidato di PBB dengan gagahnya. Atau utusan-utusan dari Indonesia yang konferensi di Den Haag Belanda. Sungguh suatu prestasi yang sangat bagus.

Dalam dunia pendidikan kita di masa kini, teknologi membawa dampak yang sangat kuat. Nyaris semua bidang pendidikan masa kini sudah tersentuh oleh teknologi. Mulai dari yang paling sederhana sekalipun sudah tersentuh oleh teknologi. Contohnya adalah adanya sebuah web site ataupun web log yang mengusung tema pendidikan dengan segala pernak-perniknya. Semua hal yang bersifat pendidikan diulas dan dibahas habis sampai ke akarnya.

Contoh dari web site yang mengusung tema pendidikan misalnya http://www.e-smartschool.com/, http://www.e-dukasi.net, dan lain-lain. Web-web tersebut konsisten mengusung pendidikan sebagai temanya. Apapun alasan dibalik realita tersebut tidaklah jadi soal. Yang paling utama dari semua itu adalah bahwa pendidikan yang notabene hal membosankan bagi kebanyakan orang, ternyata masih mendapatkan tempat.

Namun peranan teknologi di zaman kini belumlah bisa dimaksimalkan oleh pemuda kita. Sebagai bukti, tengok prestasi kaum pendahulu kita dengan segala keterbatasannya. Bandingkan dengan semakin manjanya pemuda kita dengan teknologi tetapi kurang prestasi. Bukan maksud untuk mengecilkan peranan pemuda masa kini, tetapi paling tidak semoga tulisan ini mampu membangkitkan semangat pendidikan di era teknologi.

Pemuda Indonesia, Generasi Apolitis yang Optimistis

Apolitis, tetapi ingin populer dan mementingkan kekayaan di tengah konteks pertemanan global.” Itulah gambaran pemuda Indonesia saat ini yang hidup dalam komunitas maya akibat perkembangan teknologi telekomunikasi sebagaimana terpotret dari hasil jajak pendapat Litbang Kompas.
Pemuda Indonesia, engkau pahlawan dalam hatiku! Demikian ungkap Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, dalam salah satu pidatonya yang terkenal bertajuk ”Fajar Menyingsing”.
Di depan massa dalam pembukaan Rapat Besar di Lapangan Ikada, Jakarta, tanggal 11 September 1944, secara khusus Bung Hatta menyoroti betapa pentingnya peran pemuda sebagai harapan bangsa. ”Saya percaya akan kebulatan hati pemuda Indonesia, yang percaya akan kesanggupannya berjuang dan menderita,” papar Hatta.
Generasi muda tidak hanya diklasifikasikan sebagai lapisan masyarakat berusia muda, tetapi lebih jauh dari itu selalu digambarkan sebagai sebuah generasi yang diisi oleh sosok-sosok yang penuh idealisme, berani berkorban, berani menderita, dan menjadi pelopor setiap perubahan sosial ataupun politik untuk kepentingan bangsanya.
Namun, kini setelah lebih dari satu abad Kebangkitan Nasional, menjelang 81 tahun setelah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, dan lebih dari 63 tahun setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945, pemuda menggariskan tantangannya sendiri. Bagaimanakah sosok pemuda masa kini?
Jajak pendapat Kompas yang dilaksanakan di 10 kota besar di Indonesia mencoba untuk mengungkap bagaimana sosok pemuda perkotaan berusia 16-30 tahun dalam memandang diri dan kehidupannya, baik untuk saat ini maupun masa depan. Selain itu, juga diungkap bagaimana pemuda masa kini dalam memandang berbagai persoalan yang ada di masyarakat. Rentang usia 16-30 tahun ini mengambil kriteria pemuda berdasarkan RUU Kepemudaan, yang baru-baru ini disetujui DPR untuk segera disahkan.
Generasi terbuka
Hasil jajak pendapat Kompas menunjukkan bahwa di masyarakat perkotaan Indonesia telah muncul satu generasi muda baru yang sangat melek dengan perkembangan teknologi di bidang informasi dan telekomunikasi. Komputer, laptop, internet, dan aneka jenis telepon genggam sudah sangat akrab dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka sehari-hari saat ini.
Tidak kurang dari 81 persen responden mempunyai kebiasaan mengakses internet dan sekitar 69 persen responden terbiasa mengirim dan menerima surat elektronik (e-mail) dalam kehidupan sehari-harinya. Kedua hal ini menunjukkan bahwa mayoritas responden pemuda sangat akrab dengan dunia maya. Internet tak hanya digunakan sebagai sarana untuk mengakses informasi, tetapi juga digunakan sebagai sarana komunikasi dan berinteraksi sosial.
Selain digunakan untuk menerima dan mengirim pesan instan (chatting), belakangan ini situs jejaring sosial, seperti Facebook, Twitter, atau sebelumnya Friendster dan MySpace, telah menjadi media komunikasi dan interaksi sosial baru yang turut membentuk karakter sosial dan alam pikir pemuda. Facebook, misalnya, saat ini menjadi situs jejaring sosial yang paling banyak diminati di Indonesia, terutama di kalangan muda.
Menurut situs CheckFacebook.com, dari sekitar 303 juta pengguna Facebook di dunia, 10,8 juta di antaranya adalah pengguna dari Indonesia. Jumlah pengguna di Indonesia ini meningkat dengan sangat pesat karena pada pertengahan tahun 2008 penggunanya baru sekitar 300.000 orang.
Tingginya minat masyarakat terhadap situs jejaring sosial itu tecermin dari hasil jajak pendapat kali ini. Tiga dari empat responden kategori pemuda adalah pengguna situs jejaring sosial, yang kebanyakan adalah Facebook. Adapun lebih kurang separuh responden pemuda (48 persen) selain sebagai pengguna, juga membuat profil pribadi di situs jejaring sosial itu.
Persentase responden pemuda yang memiliki profil pribadi ini jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan responden berusia di atas 30 tahun yang hanya sekitar 21 persen. Hal ini mengindikasikan responden pemuda lebih berani membuka dirinya kepada orang lain ketimbang generasi di atasnya.
Mandiri dan produktif
Tidak hanya melek teknologi dan lebih terbuka, hasil jajak pendapat ini juga mengungkapkan bahwa pemuda saat ini sangat optimistis dalam menghadapi tantangan kehidupan masa depannya. Dalam soal penghasilan, misalnya, kendati separuh dari responden pemuda yang bekerja merasa uang yang mereka terima saat ini masih belum sesuai dengan yang diharapkan, hampir semua responden (94 persen) yakin, pada masa depan, mereka akan mendapatkan penghasilan sesuai dengan yang diharapkan.
Sikap optimistis itu juga ditunjukkan sewaktu mereka diminta untuk memersepsikan kondisi yang dialaminya dengan kondisi yang dialami pemuda generasi sebelumnya, sekitar 20 tahun yang lalu, dalam beberapa persoalan. Rata-rata lebih dari dua per tiga pemuda saat ini berani memastikan, dibandingkan dengan nasib pemuda pada masa lalu, saat ini mereka mempunyai kesempatan yang lebih baik mulai dari hal untuk mendapatkan gaji yang tinggi, kehidupan yang menyenangkan, kemudahan membeli rumah, ikut serta dalam melakukan perubahan sosial, mendapatkan pendidikan yang baik, menikmati jaminan keuangan, hingga soal kebebasan seks.
Di samping bersikap optimistis, sebagian besar responden berani mengklaim, mereka adalah generasi yang unik dan berbeda dengan generasi lainnya. Untuk mendeskripsikan keunikan generasi mereka, sebagian besar responden menggunakan kata ”sukses dan mandiri”.
Selain itu, sebagian dari mereka menilai dirinya sebagai generasi ”produktif”. Di sisi lain, untuk menegaskan keunikan generasi mereka sebagai generasi yang lebih maju, sebagian besar pemuda menilai generasi orangtuanya adalah generasi ”kuno” atau ”jadul” (jaman dulu).
Pragmatis dan apolitis
Keunikan atau ciri khas pemuda sekarang yang lain adalah sikap pragmatisme. Ini terlihat dari harapan atau cita-cita yang ingin dicapai pada masa depan dan pandangan generasi ini terhadap persoalan yang dianggap penting bagi mereka saat ini.
Persoalan keuangan dan karier adalah persoalan paling utama bagi generasi muda saat ini. Menurut pandangan mereka, sebagian pemuda generasi mereka saat ini bercita-cita ingin menjadi kaya dan terkenal. Hanya seperempat bagian responden yang menilai generasi muda sekarang masih idealis, yakni ingin membantu orang yang memerlukan dan yang bercita-cita menjadi pemimpin di komunitasnya (lihat grafik).
Sikap pragmatisme sebagian besar pemuda yang lebih mengedepankan kepentingan pribadi, yakni ingin kaya, terkenal, dan sukses dalam karier, berbanding terbalik dengan rendahnya partisipasi pemuda di bidang politik dan kemasyarakatan. Ketertarikan untuk terjun di bidang politik, seperti menjadi anggota partai politik ataupun anggota legislatif, sangatlah rendah. Tidak hanya itu, sebagian besar pemuda ternyata juga tidak tertarik untuk aktif di bidang sosial, seperti menjadi anggota organisasi kemasyarakatan, organisasi pemuda, dan lembaga swadaya masyarakat.
Tampaknya memang telah terjadi perubahan dan pergeseran nilai yang membentuk generasi pemuda saat ini, terutama dalam memandang realitas kehidupannya. Selain tantangan berbeda yang dihadapi pemuda saat ini, beragamnya referensi sebagai dampak dari kemajuan teknologi dan luasnya pergaulan mereka juga membuat cara pandang dan sikap mereka dalam menghadapi berbagai persoalan yang ada menjadi berbeda.
Salah satu dampaknya adalah pemuda saat ini cenderung menjadi lebih pragmatis dan kurang peduli terhadap persoalan di luar dirinya. Namun, apabila pemuda bisa merespons berbagai tantangan ke depan itu dengan tepat dan menggunakan berbagai referensi yang ada secara bijak, bangsa ini ke depan masih bisa berharap banyak pada mereka.

PENGHARGAAN BAGI TELKOM

Speedy dan Flexi, dua produk unggulan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (TELKOM) meraih “Indonesian Customer Satisfaction Award (ICSA) 2010” masing-masing untuk kategori Internet Service Provider Wireline/Fixed dan Simcard Pascabayar Fixed Wireless Access. Penghargaan diserahkan oleh Chairman Frontier Consulting Group, Handi Irawan kepada Direktur Konsumer TELKOM, I Nyoman G Wiryanata, di Ballroom Shangri La Hotel Jakarta, Senin (4/10).

Pada malam penghargaan ICSA 2010 tersebut, anak perusahaan TELKOM, yakni Telkomsel juga meraih beberapa penghargaan. Simpati meraih penghargaan untuk kategori Simcard Prabayar Selular, Kartu Halo meraih penghargaan kategori Simcard Pascabayar Selular. Sedangkan Telkomsel Flash meraih penghargaan ICSA untuk kategori Internet Service Provider Wireless/Mobile.

ICSA yang tahun ini memasuki tahun ke 12 tersebut merupakan penghargaan bagi merek-merek terbaik di Indonesia dalam hal kepuasan pelanggan. Vice President Public and Marketing Communication TELKOM, Eddy Kurnia mengatakan, TELKOM berterima kasih karena Speedy dan Flexi masih dipandang sebagai merek-merek terbaik Indonesia.Pada tahun 2009 lalu, Speedy juga meraih penghargaan ICSA untuk kategori Internet Service Provider Wireline/Fixed.

Lebih lanjut Eddy Kurnia mengatakan, daya saing perusahaan di Indonesia akan ditentukan oleh bagaimana perusahaan mampu mendeliver produk dan jasa yang berkualitas, yang mampu memberikan kepuasan terhadap pelanggan.

ICSA adalah sebuah event yang diselenggarakan Majalah SWA dan Lembaga riset kepuasan pelanggan, Frontier, beserta Swanetwork yang melakukan riset kepuasan pelanggan terhadap suatu merek dengan menggunakan empat parameter yaitu kepuasan terhadap kualitas produk atau pelayanan (Quality Satisfaction Score/QSS), kepuasan terhadap harga berdasarkan kualitas yang diterima (Value Satisfaction Score VSS), persepsi tingkat kebaikan dari merek yang digunakan atau dikonsumsi secara keseluruhan dibandingkan dengan merek-merek lainnya (Perceived Best Score/PBS), dan kemampuan merek tersebut dalam memenuhi ekspektasi pelanggan dimasa mendatang (Expectation Score/ES.

Produk-produk yang memenangkan ICSA, berdasarkan hasil survei. Jadi pemilihan pemenang dalam ICSA ditentukan langsung oleh suara konsumen. Hasil ICSA juga diperoleh dari survei berskala besar yang melibatkan 7.200 responden random ditambah 1.200 responden booster di enam kota besar di Indonesia yakni Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan dan Makassar.

Penghargaan yang diraih oleh layanan internet cepat Speedy dan layanan FWA Flexi inimemang memberi angin segar bagi TELKOM di tengah persaingan yang semakin ketat. “ TELKOM berterima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan oleh para pelanggan yang setia menggunakan layanan ini,” ujar Eddy Kurnia. Pernghargaan tersebut menurutnya tidak akan membuat perusahaan cepat berpuas diri, TELKOM akan terus berusaha untuk memperbaiki mutu layanan.

Flexi dan Speedy
Layanan Flexi yang pada tahun 2009 diestimasi mencapai 15,7 juta satuan sambungan (SS) pelanggan dengan market share 56%, diproyeksikan tumbuh menjadi sekitar 17,2 atau 17,5 juta juta SS pada akhir 2010 dengan penambahan bersih (net add) 1,5-1,8 juta SS. Untuk mencapai target tersebut, ujar Eddy Kurnia, TELKOM akan berusaha melakukan penambahan alat produksi dengan memperhitungkan ketepatan waktu pengiriman, kualitas, kuantitas dan jangkauan (coverage). Bila proyeksi ini terwujud, maka pangsa pasar Flexi akan menjadi sekitar 57%.

Dari sisi layanan, Flexi akan diperkaya dengan beberapa nilai tambah seperti message list, akses data berbasis waktu (Time-based Pocket Data Network), transfer pulsa, long SMS, background music, Combo Plus, dan lain-lain. Selain program bundling hand set yang terbukti disambut hangat pelanggan, TELKOM akan lebih mengoptimalkan layanan data lewat produknya: Flexinet Unlimited.

Pada posisi Triwulan III 2009, pelanggan Flexi tumbuh cukup meyakinkan, yakni mencapai 63%. Atau peningkatan dari hanya 9,2 juta pelanggan pada Triwulan III 2008, menjadi 14,9 juta pada Triwulan III 2009. Peningkatan jumlah pelanggan tersebut, menurut Eddy Kurnia antara lain disebabkan tarif percakapan yang kompetitif dan penambahan BTS (Base Tranceiver Station). Total BTS Flexi hingga saat ini mencapai 5.296 BTS atau tumbuh sebesar 66%.

Dari sisi penetapan harga (pricing), program SurePrice! yang menawarkan tarif hubungan lokal antarpengguna Flexi hanya Rp 49 per menit akan dipertahankan. Sehingga lebih memantapkan positioning Flexi sebagai layanan telepon yang murah dan berkualitas.

Untuk broadband Speedy yang pada posisi akhir 2009 diestimasi mencapai 1,1 juta SS, pada akhir 2010 diproyeksikan bertambah 600 hingga 700 ribu SS menjadi antara 1,7 hingga 1,8 juta SS. Proyeksi yang cukup menantang ini menurut Eddy Kurnia tentunya selain menuntut pengerahan dukungan ketersediaan dan kualitas alat produksi yang optimal, juga mensyaratkan promosi yang gencar dan tepat sasaran.

Dari sisi pemasaran, program pricing Speedy Multi Speed yang menawarkan paket murah koneksi Internet Speedy sesuai dengan kecepatan yang dipilih pelanggan akan dilanjutkan. Pada saat bersamaan, lanjutnya, TELKOM terus melakukan kajian seksama tentang perluasan pemasaran bersama untuk meningkatkan nilai (value) layanan kepada pelanggan. Saat ini Speedy telah melakukan pemasaran bersama dengan YesTV dan Telkomsel Flash.

Dijelaskan Eddy Kurnia, produk unggulan TELKOM lain yang memperlihat perkembangan cukup pesat, adalah FlexiNet Unlimited yakni akses internet mobile dengan biaya akses yang murah mulai dari Rp 2.500 per hari. Target pelanggan FlexiNet Unlimited pada 2010 mencapai 1,7 juta s.d 2,1 juta pelanggan. Saat ini pelanggan FlexiNet Unlimited telah mencapai 1,2 juta SSF.

Penghargaan ICSA 2010 untuk Speedy dan Flexi tersebut menurut Eddy Kurnia makin mengukuhkan TELKOM untuk menjadi perusahaan telekomunikasi terdepan.